Senin, 04 April 2011

Detik detik kematian Nabi Muhammad SAW



Pagi itu,
Rasulullah dengan suara terbata-bata
memberikan petuah:
“Wahai umatku, kita semua ada dalam
kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya.
Maka taati dan bertakwalah hanya kepada-
Nya. Kuwariskan dua hal pada
kalian, Sunnah dan Al-Qur ’an. Barang
siapa yang mencintai Sunnahku berarti
mencintai aku, dan kelak orang-orang yang
mencintaiku, akan bersama-sama masuk
surga bersama aku, “
Khutbah singkat itu diakhiri dengan
pandangan mata Rasullah yang teduh
menatap sahabatnya satu persatu. Abu
Bakar menatap mata itu dengan
berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun
menahan nafas dan tangisnya. Ustman
menghela nafas panjang dan Ali
menundukan kepalanya dalam-dalam.
(sesuai dengan kepribadian para sahabat
Abu Bakar yg lembut hatinya, Umar yg kuat
dan pemberani, ustman yg tabah,Ali yg
cerdas …)
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba
“ Rasulullah akan meninggalkan
kita semua” desah hati semua sahabat
kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai
menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali
dan Fadhal dengan sigap
menangkap Rasulullah yang limbung saat
turun dari mimbar. Saat itu,
seluruh sahabat yang hadir di sana pasti
akan menahan detik-detik berlalu,
kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah
Rasulullah masih tertutup. Sedang
di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring
lemah dengan keningnya yang
berkeringat dan membasahi pelepah kurma
yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar
seseorang yang berseru mengucapkan
salam.
“Assalaamu’alaikum… .Bolehkah saya
masuk ?” tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk,
“ Maafkanlah, ayahku sedang
demam” kata Fatimah yang membalikkan
badan dan menutup pintu. Kemudian ia
kembali menemani ayahnya yang ternyata
sudah membuka mata dan bertanya
kepada Fatimah.
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru
sekali ini aku melihatnya” tutur
Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap
putrinya itu dengan pandangan yang
menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya
seolah hendak dikenang.
“ Ketahuilah, dialah yang menghapuskan
kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. dialah
Malaikat Maut, ” kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Malaikat Maut datang menghampiri, tapi
Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak
ikut menyertai. Kemudian dipanggillah
Jibril yang sebelumnya sudah bersiap
diatas langit untuk menyambut ruh kekasih
Allah dan Penghulu dunia ini. (sepertinya
Malaikat Jibril Tidak Sanggup melihat
Rasulullah dicabut nyawanya)
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti
dihadapan Allah?” Tanya Rasulullah
dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka, para
malaikat telah menanti Ruhmu, semua
pintu Surga terbuka lebar menanti
kedatanganmu ” kata Jibril. Tapi itu semua
ternyata tidak membuat Rasulullah lega,
matanya masih penuh
kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar
ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril
lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib
umatku kelak?”
“Jangan Khawatir, wahai Rasulullah, aku
pernah mendengar Allah berfirman
kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa
saja, kecuali umat Muhammad telah berada
didalamnya ’” kata Jibril. (subhanallah
Beliau mencemaskan kita semua..amien)
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail
melakukan tugas. Perlahan Ruh
Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh
Rasulullah bersimbah peluh,
urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit Sakaratul Maut ini.”
Lirih Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya
menunduk semakin dalam dan Jibril
memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku, hingga kau
palingkan wajahmu wahai Jibril?”
Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar
wahyu itu.
“Siapakah yang tega, melihat kekasih
Allah direngut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah
memekik karena sakit yang tak
tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini,
timpakan saja semua siksa maut ini
kepadaku, jangan kepada umatku ”.
(Beliau Begitu Memikirkan
umatnya, Seharusnya bisa Saja Rasulullah
Meminta untuk dihilangkan Rasa
sakitnya karena doa Beliau sungguh
didengarkan oleh-Nya. Tetapi Beliau
lebih Mengkhawatirkan Umatnya)
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan
dadanya sudah tak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak
membisikan sesuatu, Ali segera
mendekatkan telinganya.
“Peliharalah shalat dan santuni orang-
orang lemah diantaramu”
Di luar pintu, tangis mulai terdengar
bersahutan, sahabat saling
berpelukan. Fatimah menutupkan tangan
diwajahnya, dan Ali kembali
mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah
yang mulai kebiruan.
“umatku, umatku, umatku”
dan……..
PUPUSLAH KEMBANG HIDUP MANUSIA MULIA
ITU ………
“Wahai Jiwa Yang Tenang
Kembalilah Kepada Tuhanmu
Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya
Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-
Hamba- Ku
Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku ”


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar